HAKIKAT KETUHANAN
1. Hakikat Ketuhanan (sifat-sifat Tuhan) dalam agama Buddha adalah Tidak berkondisi dan terbebas dari :
· Lobha ( Keserakahan )
· Dosa ( Kebencian )
· Moha ( Kegelapan batin )
Karena tidak berkondisi dan bebas dari Lobha,
Dosa dan Moha, maka sifat Tuhan adalah
Maha Esa, karena hanya satu-satunya dan Maha Suci. Karena itu, Tuhan bisa
dikatakan bersifat Impersonal (bukan pribadi), yaitu memahami Yang Mutlak/Tuhan
sebagai Anthropomorphisme (tidak dalam ukuran bentuk manusia ).
Jika masih berpandangan bahwa Tuhan bersifat
Personal, maka berarti masih berkondisi, yang berarti masih ada Dukkha
(Penderitaan). Dengan demikian, bisa timbul pandangan bahwa Tuhan dapat
disalahkan, sehingga kita tidak dapat mendudukkan Tuhan dalam proporsi yang
sebenarnya dan mengaburkan kembali pandangan yang semula bahwa Tuhan adalah
yang Tertinggi, Maha Suci, Maha Esa, Maha Tahu, dan sebagainya.
DEFINISI DAN
ASAL-USUL KATA “ TUHAN ”
2.
Dilihat
dari Agama dan kepercayaan yang ada, Tuhan, Dei, Deos, God, Thien, pada intinya
memiliki pengertian Penguasa, Pengatur alam semesta yang berkepribadian, yang
dipercaya memiliki Super Power. Kepercayaan akan adanya Tuhan dimulai dengan
konsep Politheis (banyak Tuhan) dengan tugas-tugas tertentu seperti kepercayaan
Mesir dan Yunani kuno. Belakangan manusia mulai berpikir bahwa Tuhan yang
jumlahnya banyak tersebut sudah tidak efektif lagi, karena mengurangi
kredibilitas sesuatu yang Super Power. Selain itu timbul pemikiran perlunya
Tuhan tertinggi untuk mengatur Tuhan-Tuhan yang lain, yang merupakan cermin
dari hirarki kerajaan. Akhirnya terbentuklah konsep Monotheis (Tuhan yang
satu).
3.
Etimologi
(Asal Kata) Tuhan dalam bahasa Melayu juga memiliki sejarahnya sendiri. Kata
Tuhan berasal dari kata Tuan sama artinya dengan kata “Lord” dalam bahasa
Inggris, sama artinya dengan kata Gusti, yaitu seseorang sebagai tempat
mengabdikan diri.
Hal ini dapat kita buktikan dengan mengamati
dalam bahasa Jawa, seperti Gusti Raja, Gusti Putri yang kemudian muncul istilah Gusti Allah.
Selain itu, juga dari satu sumber disebutkan, bahwa sebelum perkataan Tuhan
diperkenalkan kepada rakyat Indonesia, rakyat Indonesia telah ber-Tuhan, akan
tetapi tidak disebut dengan perkataan Tuhan. Di Jawa dikenal perkataan
Pangeran. Tuhan atau Pangeran dalam bahasa Jawa sering digambarkan sebagai :
Gesang tanpo roh,
kuwaos tanpo piranti, tan wiwitan daton wekasan, tan keno kinoyo ngapo, ora
jaman ora makam, ora arah ora enggon, adoh tanpo wangenan, cedak tanpo gepokan
(senggolan), ora njobo ora njero, lembut tan keno jinumput, gede tan keno
kiniro-kiro.
Yang artinya :
Hidup tanpa roh, kuasa tanpa alat, tanpa awal
tanpa akhir, tak dapat diapa-siapakan, tak kenal jaman maupun perhentian, tak
berarah tak bertempat, jauh tak terbatas, dekat tak tersentuh, tak diluar tak
didalam, halus tak terpungut, besar tak terhingga.
Kedatangan bangsa Barat dengan membawa agama
Nasrani dan usaha menerjemahkan Injil, khususnya kata Lord ( Yesus ) kedalam
bahasa Melayu, memberikan perubahan kata Tuan menjadi Tuhan. Hal ini terjadi
karena kata Tuan memiliki konotasi yang sifatnya duniawi, dan dengan diubahnya
kata tersebut menjadi kata Tuhan akan memberikan konotasi yang sifatnya
Spiritual.
4.
Bagaimana
dengan Buddhisme? Pada dasarnya dalam Buddhisme tidak terdapat ajaran mengenai
Tuhan dalam pemahaman pengertian sebagai Penguasa, Pengatur alam semesta yang
berkepribadian yang dipercaya memiliki
Super Power. Tidak ada satupun
pengertian dari Tuhan diatas yang dapat kita jumpai dalam teks-teks awal
Buddhisme, kecuali beberapa sifat tertentu.
Kata Ketuhanan merupakan kata yang memiliki
awalan ke dan akhiran an, ketika suatu kata dasar diberi imbuhan awalan ke dan
akhiran an, maka kata tersebut memiliki perubahan arti. Dalam hal ini kata Tuhan yang merupakan kata
benda, ketika ditambah dengan awalan ke dan akhiran an, akan berubah menjadi
kata sifat. Dengan kata lain, kata “Ketuhanan” berarti sifat-sifat atau hal-hal
yang berhubungan dengan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.
Kesalahan umum mengenai pengertian dari kata
Ketuhanan Yang Maha Esa , sering diartikan sebagai Satu sosok Tuhan yang
tunggal ( tiada duanya ), jelas pengertian itu adalah salah. Jika yang dimaksud
adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah Eka,
bukan kata Esa. Karena kata Esa berasal dari bahasa Sansekerta/Pali, kata esa
bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata Esa berasal dari kata Etad
yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan Yang Mutlak. Sedangkan kata Satu
dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali ada kata
Eka.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan
bahwa arti dari Ketuhanan yang Maha Esa
bukanlah berarti Tuhan yang hanya Satu, tetapi Sifat-sifat luhur/mulia Tuhan yang mutlak harus ada,
sekali lagi bukan Tuhannya.
5.
Apakah
hanya karena di kitab-kitab suci agama Buddha tidak pernah ditemukan kata-kata
Tuhan, sehingga agama Buddha dianggap tidak ber-Tuhan? (Ateis). Pada dasarnya
konsep Ketuhanan dalam Kitab Suci agama Buddha tidak diterjemahkan dalam kata
Tuhan karena untuk menghindari pemahaman yang bias. Nibbana sebagai konsep
Ketuhanan dalam agama Buddha selalu ditulis dalam bahasa aslinya untuk
menghindari salah persepsi.
6.
Sesungguhnya
dan ini adalah fakta, bahwa didalam Kitab Suci Nasrani dalam bahasa aslinya
Ibrani, menyebut Tuhan sebagai Yahwe, sedangkan Al Quran menyebut Tuhan dengan
Allah, Weda/Hindu menyebut Tuhan dengan Sang trimurti. Jadi, atas dasar apa
kata Yahwe, Allah, Sang Trimurti lalu diterjemahkan menjadi kata Tuhan, apakah
sosok Tuhannya sama? Berbeda dengan kata Water, Sui, Banyu yang bisa
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata Air karena mengacu pada benda
yang sifat dan bentuknya sama.
7.
Lalu
apakah Tuhan dari agama-agama tersebut mengacu pada Tuhan yang sama? Tentu
jawabnya TIDAK!, karena pada prinsipnya setiap agama memiliki konsep yang
berbeda dan cukup signifikan. Kalau toh ada seseorang yang mengatakan bahwa
Tuhan dari agama-agama yang berlainan itu adalah sama saja/Tuhan yang sama,
lalu mengapa Tuhan yang sama itu memberikan aturan-aturan, perintah-perintah,
wahyu, Firman yang sangat berbeda diantara agama-agama tersebut, yang justeru
tak jarang pula perbedaan itu menimbulkan perdebatan-perdebatan, perpecahan
bahkan peperangan diantara UmmatNya? Oleh karena itu, wajar dan sah saja bila
konsep Tuhan didalam agama Buddha berbeda dengan konsep Tuhan di agama-agama
lain.
Agama Buddha berlawanan dengan kebanyakan agama yaitu memberi pelajaran Jalan Tengah dan membuat AjaranNya Homocentris (berpusat pada manusia) yang berlawanan dengan kepercayaan-kepercayaan Theocentris (berpusat pada Tuhan). Dengan demikian Agama Buddha adalah Introvert (melihat ke dalam) dan berhubungan dengan pembebasan individu. Dhamma harus direalisasikan oleh diri sendiri (Sandittiko).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar