BAB III
KELAHIRAN KEMBALI
“ Adakah kehidupan setelah kematian ? “
66. Ada 3 macam jawaban untuk pertanyaan itu , yaitu :
1)
Mereka yang percaya pada
adanya “ Tuhan penguasa
semesta ” akan menjawab, bahwa setelah mati seseorang akan ditempatkan di Surga
abadi atau Neraka abadi, tergantung pada perbuatan atau agama orang itu.
2)
Yang lain mengatakan bahwa bila hidup seseorang berakhir,
keberadaannya juga berakhir. Ini
adalah kepercayaan “Kemusnahan pada kematian”, yang merupakan pandangan kaum
materialisme. Penganut materialisme di sepanjang masa percaya bahwa tidak ada
yang hidup terpisah dari zat materi. Mereka mengabaikan pertanyaan mengenai
kehidupan sebelum kelahiran dan kehidupan setelah kematian sesuai dengan
kepercayaan yang mereka yakini. Bagi mereka pikiran pun merupakan hasil dari
zat, dan mereka percaya bahwa setelah kematian badan jasmani, eksistensi “
personalitas ” juga berakhir.
3)
Sang Buddha berkata bahwa setelah kematian, kita akan terlahir
pada kehidupan baru, dan
bahwa proses mati dan terlahir kembali ini akan berkelanjutan sampai kebebasan
Nibbana tercapai.
67. Agama Buddha menganggap kedua pandangan
diatas tidak benar dan tidak lengkap. Pandangan pertama ditolak karena tidak
masuk akal, tidak adil dan kejam. Si Jahat tidak semestinya dilaknat hukuman
abadi di Neraka, juga Si baik tidak semestinya dianugerahi Surga abadi, hanya
karena berbuat kejahatan atau kebaikan dibumi selama 60 atau 80 tahun atau Sepanjang
hidupnya sekalipun, masa 60 atau
80 tahun tidak sebanding dengan kebahagiaan atau kesengsaraan abadi yang diterimanya.
Juga adalah tidak masuk akal bahwa
“Tuhan yang semestinya Maha Pengasih” mencampakkan dan menghukum “CiptaanNya”
berupa siksaan dan kesakitan selama jangka waktu yang tidak terbatas/abadi.
68. Pandangan diatas juga tidak bisa menjawab
banyak pertanyaan-pertanyaan penting sehubungan dengan itu, seperti : Apa yang
dialami para binatang setelah mati?, Apa yang terjadi pada jutaan bayi yang
mati dalam kandungan? pula apa yang terjadi dengan bayi yang begitu lahir
segera mati? apakah mereka ke Surga atau ke Neraka? Kalau ke Surga, maka jelas
tak adil, sebab mereka belum pernah berbuat baik, lalu bila ia dihukum di
Neraka, juga tidak adil karena mereka belum sempat berbuat kejahatan.
69. Pandangan materialisme, juga tidak dapat
menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar.
Para kaum materialistik sulit menjawab fenomena kompleks, misalnya
bagaimana kesadaran manusia yang timbul setelah pertemuan dua sel kelamin dan
perkembangannya selama 9 bulan.
Saat
ini, setelah Parapsikologi telah diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan,
fenomena seperti telepati dan sebagainya, bertambah tidak cocok dengan
pandangan kaum materialistik tentang batin manusia. Agama Buddha menawarkan
keterangan yang sangat memuaskan tentang darimana kita datang dan apa yang akan
terjadi setelah kita mati.
70. Punabbhava
berasal dari bahasa Pali yang terbentuk dari dua kata yaitu kata ”puna” dan
”bhava”. Kata ”puna” berarti lagi atau kembali, sedangkan ”bhava” berarti
proses menjadi ada/eksis atau kelahiran. Jadi, secara harafiah, punabbhava
berarti proses menjadi ada lagi atau kelahiran kembali /Tumimbal lahir, dimana
proses ini merupakan akibat atau hasil dari kammanya pada kehidupan lampau.
Proses kelahiran kembali atau punabbhava terjadi pada semua makhluk hidup yang
telah mati dan belum pencapai Penerangan Sempurna.
71. Proses kematian dan kelahiran kembali
Ketika
seseorang akan meninggal dunia, Kesadaran Ajal (cuti-citta) atau kesadaran pada
momen terakhir (cuti vinanna)
mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan Kamma. Kemudian
selanjutnya Kesadaran ajal (cuti-citta)
ini padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi citta) untuk timbul pada salah satu dari 31 alam
kehidupan sesuai dengan kammanya. Hal ini secara umum disebut pula sebagai
suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru. ( refr: Mettadewi W. SH. SAB -
Pokok-pokok dasar Abhidhamma jilid I)
72. Dengan demikian menurut Buddhisme
Theravada, tidak dikenal adanya "Keadaan antara / Alam Penantian"
(antara-bhava) atau "Alam Transisi" dari satu kematian kepada
kehidupan yang berikutnya, yang berarti tumimbal lahir itu berlangsung segera
sebagaimana bola lampu yang dapat diganti segera.
73. Kesadaran di momen terakhir (cuti citta atau cuti vinnana) milik kehidupan
sebelumnya ; dengan cepat berlanjut setelah padamnya kesadaran itu. Karena
telah terkondisikan maka timbul momen pertama dari kesadaran pada kelahiran
yang sekarang yang disebut hubungan kembali atau kelahiran kembali dari
kesadaran ( patisandhivinnana
).
Demikian
pula momen pikiran terakhir dari kehidupan ini mengondisikan momen pikiran
pertama dari kehidupan yang selanjutnya. Dengan cara ini kesadaran lahir dan
mati memberikan tempat pada kesadaran baru. Maka aliran kesadaran tanpa henti
ini akan terus berlanjut sampai kehidupan berhenti. Kehidupan dalam hal ini
adalah kesadaran – keinginan untuk hidup, keinginan untuk melanjutkan.
Menurut
ilmu biologi modern, kehidupan manusia baru dimulai pada saat menakjubkan
ketika sel sperma dari ayah bersatu dengan sel telur atau ovum dalam tubuh ibu.
Ini merupakan momen kelahiran. Ilmu pengetahuan hanya membicarakan dua faktor
fisik yang umum ini saja. Akan tetapi, agama Buddha membicarakan pula faktor
ketiga yang bersifat rohani.
74. Didalam Mahatanhasamkhaya Sutta, Majjhima Nikaya 38, Sang Buddha mengatakan:
"
Dengan bertemunya ketiga faktor ini maka pembuahan terjadi. Jika calon ibu dan
ayah bersatu, tetapi bukan pada masa subur si calon ibu, dan makhluk hidup yang
akan dilahirkan ( gandhabba ) tidak ada, maka benih kehidupan tidak tertanam.
Jika kedua calon orang tua bersatu dan pada masa subur si calon ibu, tetapi
gandhabba atau makhluk hidup yang akan dilahirkan tidak ada, maka tidak terjadi
pembuahan. Jika calon ibu dan ayah bersatu, dan pada masa subur si calon ibu,
serta makhluk hidup yang akan dilahirkan, gandhabba, juga ada, maka benih
kehidupan tertanam di sana. "
Faktor ketiga, gandhabba, hanyalah
istilah untuk kesadaran lahir kembali ( patisandhi vinnana ). Dapat pula
disebut kekuatan energi yang dilepaskan dari orang yang meninggal dunia. Tetapi
kesadaran yang lahir kembali bukanlah diri yang kekal, roh ataupun satuan hidup
yang merasakan buah dari perbuatan baik dan jahat. Kesadaran juga disebabkan
oleh kondisi. Terpisah dari kondisi, maka tidak akan timbul kesadaran.
Lebih lanjut Sang Buddha berkata:
“ Untuk dapat terlahir kembali, Tiga syarat harus dipenuhi : Sepasang( Calon ) Orang tua yang subur, hubungan seksual dan adanya gandhabba”
(Majjhima
Nikaya I : 265 ).
75. Istilah Gandhabba berarti “ Datang dari
tempat lain ”, mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari
kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik
yang meninggalkan badan yang telah mati. Ketika badan mati, “Batin bergerak
keatas”/uddhamgami . (Samyutta Nikaya V : 370 ) , dan mengembangkan diri lagi
pada sel telur (calon) ibu, yang baru saja dibuahi. Janin tumbuh, lahir dan
berkembang sebagai pribadi baru dengan diprasyarati, baik oleh karakteristik
batin yang terbawa (dari kehidupan lampau) juga oleh lingkungan barunya.
Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi oleh usaha kesadaran, pendidikan,
pengaruh orang tua dan lingkungan sosial. Watak menyukai atau tidak menyukai,
bakat kemampuan dan sebagainya, yang dikenal sebagai “ Sifat bawaan dari sejak
lahir ” pada setiap individu sebenarnya adalah terbawa dari kehidupan
sebelumnya. Dengan kata lain, watak serta apa yang dialami pada kehidupan kita
saat sekarang, pada tingkat-tingkat tertentu
adalah hasil (vipaka)
dari perbuatan (kamma) kehidupan lampau. Perbuatan-perbuatan kita selama
hidup, demikian pula, akan menentukan di alam kehidupan mana kita akan
dilahirkan.
76. Secara sederhana, untuk dapat mengerti
bagaimana “Batin” “berpindah” dari satu badan ke badan yang lain, maka kita
dapat membandingkannya dengan pancaran siaran radio. Gelombang radio, yang
jelas memang tidak terdiri atas musik atau pidato, namun adalah energi pada
frekwensi-frekwensi yang berbeda, dipancarkan lewat angkasa, tertarik dan
ditangkap oleh pesawat penerima/radio yang kemudian disiarkan sebagai musik
atau pidato. Dengan cara yang
sama, “ Batin ” meninggalkan badan pada saat kematian, bergerak diangkasa,
tertarik dan masuk ke sel telur yang
telah dibuahi dan di “siarkan ” sebagai suatu pribadi baru. (Bukti-bukti
ilmiah yang mendukung, pendapat para filsuf dan laporan-laporan pendapat umum
tentang doktrin kelahiran kembali ini, dapat disimak pada halaman 69 ;
“Bukti-bukti yang mendukung doktrin kelahiran kembali.”-Red )
77. Dalam proses kelahiran kembali atau
rebirth (bahasa Inggris), tidak terjadi suatu perpindahan roh/jiwa/kesadaran ke
dalam jasmani yang baru. Yang terjadi dalam proses kelahiran kembali adalah
adanya proses berkesinambungan dari kesadaran (citta) pada kehidupan lampau
dengan kesadaran (citta) kehidupan baru yang merupakan suatu aksi-reaksi. Oleh
karena itu proses kelahiran kembali sangatlah berhubungan dengan proses
kematian itu sendiri. Dan kedua proses yang berhubungan dengan batin ini
sangatlah kompleks.
78. Sang Buddha menjelaskan dalam Satta Sutta;
Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} bahwa makhluk hidup pada umumnya
dan manusia pada khususnya merupakan perpaduan dari lima kelompok (Panca
Khandha), yang kelimanya dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama yaitu
jasmani atau fisik dan yang kedua adalah batin. Baik fisik maupun batin ini
tidak terlepas dari hukum perubahan, suatu saat muncul dan saat kemudian
mengalami pemadaman/mati. Batin sendiri terdiri dari perasaan, pencerapan,
bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Unsur-unsur batin ini disebut dalam
bahasa Pali sebagai citta. Citta juga sering disebut dengan kesadaran. Citta/kesadaran
ini mengalami kemunculan, pemisahan dan pemadaman.
79. Pada saat seseorang mengalami kematian,
jasmani tidak lagi bisa berfungsi untuk mendukung citta/kesadaran.
Citta/kesadarannya pun akan mengalami pemadaman/kematian dan secara otomatis ia
meneruskan kesan apapun yang tertanam padanya kepada Citta/kesadaran penerusnya
yang tidak lain merupakan Citta/ kesadaran pada kehidupan yang baru. Penerusan
Kesadaran (Patisandhi Vinnana) ini terjadi dengan adanya peran dari Kamma yang
pernah dilakukan.
Ketika
jasmani mengalami kematian, dalam pikiran orang yang sekarat muncul kesadaran
yang bernama Kesadaran Ajal (Cuti Citta). Ketika Kesadaran Ajal mengalami
pemadaman juga, maka orang tersebut dikatakan sudah meninggal. Tetapi pada saat
yang bersamaan pula (tanpa selang/jeda waktu) Citta/kesadaran kehidupan baru
muncul. Dan saat itulah seseorang telah dilahirkan kembali, sudah berada dalam
kandungan dengan jasmani yang baru berupa janin. Keseluruhan proses ini terjadi
dalam waktu yang singkat.
80. Perumpamaan Lilin
Proses
kelahiran kembali dimana tidak adanya peristiwa perpindahan jiwa/roh dapat
diperumpamakan seperti sebuah api lilin. Ketika kita melihat sebuah api yang
menyala pada sebuah lilin nampak apinya sama saja walaupun telah satu jam telah
berlalu. Tidak tampak adanya api dari lilin lain yang menggantikannya. Yang
jelas tampak oleh kita adalah memendeknya ukuran lilin tersebut. Tetapi apakah
ini berarti api yang menyala tersebut merupakan api yang sama dengan api yang
kita lihat satu jam yang lalu? Jawabannya adalah : tidak sama.
Jika
kita perhatikan secara seksama, api pada lilin tidak akan hidup tanpa adanya
unsur-unsur pendukung seperti batang lilin, sumbu, dan udara (oksigen). Api
yang menyala tersebut ternyata merupakan api yang berbeda karena tiap saat
disokong oleh bagian dari batang lilin, sumbu dan molekul-molekuk udara yang
berbeda. Meskipun disokong oleh unsur-unsur yang berbeda, tetapi api tersebut
tetap menyala tanpa perlu padam kemudian menyala lagi. Dengan kata lain adanya
proses yang berkesinambungan.
81. Api disini tidak lain adalah kesadaran,
batang lilin dan sumbu adalah jasmani, dan udara adalah kamma. Jasmani dan
kamma adalah penyokong keberlangsungan kesadaran.
82. Doktrin
kelahiran kembali amat menarik
karena sangat adil. Menurut pandangan agama lain, walau seorang berprilaku
baik dalam hidupnya, maka ia tetap saja
dapat dihukum selamanya di neraka kekal, karena dianggap memeluk agama yang
salah. Ini jelas sangatlah tidak adil.
83. Kamma dan kelahiran kembali berarti orang baik akan terlahir baik, apapun agama yang dianutnya. Pula orang jahat akan tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya, walaupun ia “ Insaf ” dan mengubah agamanya dimenit-menit terakhir kehidupannya. Doktrin kelahiran kembali juga memungkinkan setiap orang untuk senantiasa mempunyai kesempatan lagi. Pandangan agama lain, hanya memberikan kesempatan sekali saja. Apa yang dia perbuat dan apa agama yang dianutnya pada masa hidupnya yang singkat ini, menentukan bagaimana dia selamanya secara kekal. Sebaliknya, Sang Buddha menegaskan bahwa bila kita gagal memurnikan diri kita pada kehidupan ini, kita masih dapat melakukannya pada kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang berikutnya lagi. Kelahiran kembali juga memungkinkan kita untuk senantiasa menyempurnakan keahlian dan minat kita yang telah kita kembangkan saat ini, pada kehidupan yang akan datang.
Dengan
demikian, secara jujur beralasan bila dikatakan, doktrin kelahiran kembali
lebih dapat diterima, lebih adil dan lebih menarik hati dibanding teori tentang
masalah sesudah kematian yang lain.
84. Banyak orang enggan menerima doktrin
kelahiran kembali karena mereka tidak mampu memahaminya atau karena mereka
tidak mampu mengingat kelahiran mereka sebelumnya. Ini bukan alasan yang masuk
akal. Kelahiran kembali adalah suatu proses yang tidak dapat diamati dengan
indera. Kelahiran kembali tidak dapat
ditemukan dengan pengukuran dan perhitungan matematis atau menggunakan
peralatan ilmiah dan mesin, tidak pula dapat difoto atau ditimbang. Namun
demikian, bukan berarti Kelahiran kembali itu tidak ada. Manusia modern telah
sampai pada kesimpulan bahwa ada begitu banyak hal di alam semesta ini yang
tidak dapat diamati dengan indera biasa, sekalipun dengan peralatan ilmiah yang
tercanggihpun.
85. Sang Buddha adalah ahli terbesar dalam hal kelahiran kembali (Tumimbal lahir/Rebirth), Pada malam agung Pencerahannya, dalam pengamatan pertama Sang Buddha mengembangkan pengetahuan menyadari masa lampau yang memungkinkan mengingat berbagai kehidupan lampaunya;
“ Aku mengingat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau, yaitu satu kelahiran, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran….. demikianlah aku mengingat kembali kehidupan-kehidupanku yang lampau, terperinci berserta ciri-cirinya. Inilah pengetahuan sejati pertama yang kucapai pada malam jaga pertama…..”.
“ Aku melihat makhluk-makhluk mati dan lahir kembali, yang hina dan yang mulia, yang cantik dan yang buruk, yang bahagia dan yang malang. Aku melihat bagaimana makhluk-makhluk itu melanjutkan kehidupannya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Inilah pengetahuan sejati kedua yang kucapai pada malam jaga kedua…”.
---(Mahasaccaka
Sutta , Majjhima Nikaya 36 ).
Ini
adalah ungkapan paling awal dari Sang Buddha sehubungan dengan pertanyaan
tentang Kelahiran kembali. Hal ini secara meyakinkan membuktikan bahwa Sang
Buddha tidak meminjam kebenaran Kelahiran kembali dari sumber-sumber lain yang
telah ada, tetapi Beliau berbicara berdasarkan pengetahuan pribadi, pengetahuan
yang dikembangkan oleh diri sendiri dan yang juga dapat dikembangkan oleh orang
lain.
Dalam Dhammapada XI ; 153, Sang Buddha bersabda :
“Dengan melalui banyak kelahiran, aku telah mengembara
dalam samsara (siklus kehidupan).Terus mencari,
namun tak kutemukan pembuat rumah (Tubuh) ini,
Sungguh
menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini ”.
· Pernahkah
kita pada suatu saat, disuatu tempat, berjumpa dengan orang yang belum pernah
kita temui sebelumnya, tetapi secara naluriah terasa sudah tidak asing lagi
dengan orang tsb ?.
·
Bahkan
kadang kita tak habis berpikir ; Mengapa kita tidak menyukai orang itu, padahal
kita tidak saling mengenal sebelumnya ?.
·
Pernahkah
kita mengunjungi suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya dan
secara naluriah terkesan bahwa kita benar-benar mengenali lingkungan sekitarnya
dan “merasa” bahwa kita pernah ketempat itu sebelumnya ?
· Pernahkah
disuatu saat, disuatu tempat, kita sedang berkumpul dengan teman atau keluarga
kita, dan pada momen tertentu tiba-tiba naluri kita merasakan bahwa situasi dan
kondisi seperti itu pernah kita alami sebelumnya?.
Inilah
suatu bukti nyata bahwa kehidupan dimasa lalu adalah suatu kebenaran adanya.
Walaupun, kebanyakan orang tidak bisa mengingat kehidupan sebelumnya, bahkan
tidak mengingat kejadian-kejadian pada masa kecilnya, bahkan kejadian-kejadian
sebulan yang lalupun tidak dapat diingatnya dengan baik, dengan demikian tetap
menjadi kenyataan bahwa pikiran manusia tampaknya bekerja dengan suatu cara
dimana tidak bisa mengingat seluruh peristiwa yang telah lampau.
86. Pikiran dan cara kerjanya, pada umumnya
tidak dimengerti oleh kebanyakan orang. Sedikit yang tahu bahwa “Ingatan bawah
sadar” merupakan bagian besar dari pikiran yang tidak biasa kita manfaatkan.
Sebenarnya dalam bagian pikiran inilah selamanya tersimpan seluruh ingatan
pengalaman-pengalaman / kesan-kesan lampau kita, termasuk kehidupan-kehidupan
sebelumnya.
87. Ilmu pengetahuan modern menerima hipotesis
bahwa dalam bawah sadar terdapat ingatan lengkap, tidak hanya seluruh rincian
kehidupan saat ini, namun termasuk juga tahap-tahap kesadaran lampau yang
sejajar dengan kehidupan kita saat ini. Adalah hal yang baik, kita tidak ingat
berbagai kekeliruan, kesengsaraan dan prasangka pada kehidupan lampau kita,
karena hal itu dapat membuat hidup kita menjadi sangat berat. Ada Kelahiran
kembali dalam alam yang bukan manusia, dimana kesan-kesannya tidak tercatat
secara jelas. Serangkaian kehidupan semacam itu praktis menghapuskan seluruh ingatan.
88. Banyak ahli spiritual Barat yang telah
menerima Doktrin Kelahiran kembali sebagai suatu fakta, karena merupakan
satu-satunya penjelasan yang masuk akal terhadap hal-hal tertentu yang ternyata
tidak sesuai dengan konsep ahli spiritual yang lain.
Sekedar contoh, diketahui bahwa dengan perantaraan ahli spiritual dimungkinkan untuk berhubungan dengan orang-orang tertentu yang telah mati, sementara dengan orang lain ternyata tidak dapat. Hal ini selalu menjadi kesulitan besar bagi para ahli spiritual. Namun ajaran Sang Buddha dapat menjawab dengan sederhana, Sang Buddha bersabda :
“ Dan apa beragam kamma itu ?
Adalah kamma yang akan berbuah di alam neraka,
di alam binatang, di alam asura, di alam peta, di alam manusia,
pula ada kamma yang berbuah di alam dewa .”
---(
Angutta Nikaya III : 414 ).
Dengan demikian, jelas tidak semua makhluk bertumimbal lahir dalam alam spiritual, lebih jauh lagi, beberapa alam kehidupan ini terlampau jauh dari alam manusia untuk dijangkau oleh para cenayang pada umumnya.
-oOo-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar