BENARKAH
TUHAN MENCOBA CIPTAANNYA SENDIRI?
1.
Seringkali
kita mendengar dari seseorang yang sedang mengalami musibah, kemalangan dan
kesialan dalam hidupnya mengatakan bahwa hal itu merupakan Cobaan dari Tuhan
untuk melihat apakah pengikutnya itu benar-benar setia padanya Lalu apa pendapat kita dengan cerita kisah
nyata ini ?....
---- Beberapa
tahun yang lalu, pada suatu malam selesai dari kebaktian di tempat ibadahnya,
seorang pengabar agama yang taat pada agamanya pulang kerumahnya didaerah
Surabaya Barat dengan mengendarai sepeda motor. Ditengah perjalanan dia dihadang perampok yang hendak
merampas sepeda motornya. Karena mungkin dia mengadakan perlawanan, akhirnya
selain sepeda motornya dirampas, ia juga dianiaya dan ditinggal sendirian di
jalan sepi tersebut dengan kondisi terluka parah. Dengan sisa tenaga yang ada
ia berusaha untuk meminta bantuan dari kendaraan yang lewat, namun tidak ada
satupun yang berani berhenti untuk menolong karena takut dengan penampilannya
yang penuh dengan luka dan darah tersebut. Akhirnya iapun memutuskan untuk
terus berjalan dan merangkak sampai ke lokasi perumahannya, kemudian ia
ditolong oleh Satpam perumahan yang mengenalinya. ----
Dari cerita diatas, orang tidak akan berhenti
berpikir dan bertanya-tanya kenapa ia mengalami kejadian yang mengerikan itu,
apa penyebabnya? Bagaimana orang yang sudah begitu taat sembahyang dan baru
saja keluar dari pelayanan di tempat ibadahnya bisa menerima musibah seperti
itu? Benarkah itu adalah Cobaan dari Tuhan? Apabila
kita menggambarkan Tuhan sedang mencoba manusia yang sudah begitu taat
kepadaNya dengan cara seperti itu, kita tentunya boleh merasa ngeri dengan
sosok Tuhan seperti itu, dan tentunya sosok Tuhan tersebut tidak bisa disebut
bersifat Maha pengasih dan penyayang.
2.
Apabila seorang ibu mencoba membuat roti kukus yang enak, maka
disitu ada resiko roti kukus itu tidak “mengembang” atau sering dikatakan
orang, rotinya “bantat”. Ibu itu memang tidak tahu apa hasil akhir dari
coba-cobanya terhadap roti itu, karena itu ia harus mencoba dan mencoba lagi
membuat roti kukus itu sampai benar-benar enak dan sukses.
Konsep cobaan sebagai jawaban atas kejadian
yang dialami oleh pengabar agama tersebut diatas sulit diterima kecuali Tuhan
memang sedang coba-coba dan tidak tahu bagaimana hasil percobaannya itu. Dengan
demikian berarti Tuhan tersebut tidak maha tahu. Tetapi kalau benar-benar Tuhan
tersebut maha tahu, bahwa hasilnya akan mengerikan, mengapa masih saja mencobai
manusianya hingga menderita seperti itu?
Hal ini tentunya mirip dengan sifat manusia yang iseng dan kejam.
15. Bagaimana pula
dengan musibah Tsunami yang menelan korban ribuan jiwa itu?, apakah juga
merupakan salah satu dari sekian banyak Percobaan dari Tuhan, atau bahkan
Hukuman dari Tuhan? Inilah wujud kesalahan-kesalahan manusia yang menggambarkan
Tuhan sebagai Suatu Sosok yang berkepribadian dan bukan gambaran Tuhan yang
sesungguhnya.
16. Jawaban lain yang sering dikatakan adalah
bahwa kejadian yang terjadi sudah merupakan Rencana
Tuhan. Apabila kita telaah penjelasan ini, tentunya timbul suatu pengertian
bahwa kejadian yang terjadi pada teman kita tersebut sudah direncanakan
sebelumnya oleh Tuhan bahkan mungkin pada saat ia belum lahir dimana perampok
tersebut juga merupakan bagian dari rencana tersebut. Misalkan ada suatu pentas
sandiwara dimana ada seorang yang baik hati dirampok oleh perampok, maka aktor
perampok harus betul-betul menjalankan perannya dengan baik agar sandiwara itu
bagus jadinya. Apabila
dalam skenarionya (Rencana) dia harus merampok lalu dia malah menolong
orang itu, tentunya hal itu akan menyebabkan Sutradara marah. Dia sudah merusak
jalan cerita dan melawan perintah. Tetapi bila dia benar-benar berperan sebagai
perampok yang bengis maka seharusnya akan mendapatkan pujian dari Sang
sutradara, harusnya dia dapat penghargaan tertinggi dalam seni peran seperti
halnya piala Oscar !
Bila kita kembali pada cerita diatas, maka seharusnya perampok
sepeda motor tadi masuk surga karena sudah menjalankan perintah sesuai
Rencana-NYA.Tetapi yang terjadi biasanya perampok itu dikatakan akan masuk
Neraka karena kejahatannya.
Konsep
bahwa semua kejadian sudah direncanakan oleh Tuhan, sulit diterima. Apabila
semua sudah direncanakan berarti sejak awal diciptakan manusia sudah ditentukan
mana yang akan masuk Neraka dan mana yang akan masuk Surga. Lalu mana letak
keadilanNya dan lagipula apa fungsinya menciptakan manusia dengan rencana
seperti itu? atau konsep ini murni buatan manusia sehingga akhirnya menyebabkan
gambaran Tuhan jadi seperti itu ?
Seringkali
ada orang yang menjelaskan bahwa kejadian itu untuk mengingatkan manusia bahwa
Tuhan memiliki kekuasaan penuh atas nasib manusia. Apabila hal itu yang
terjadi, maka berarti Tuhan tersebut bukan Maha pencipta karena telah
menciptakan manusia yang tidak sempurna, sehingga perlu terus menerus untuk
diingatkan. Apalagi teman kita itu tadi kerjaannya tiap saat melayani Tuhan,
kenapa ia yang harus diingatkan dan bukannya si perampok ?
17. Terkadang
orang menyalahkan Iblis atau Setan, yang diceritakan sebagai ciptaan
Tuhan yang bertugas untuk menguji kesetiaan dan keteguhan iman manusia terhadap
Tuhannya. Jika Tuhan maha tahu, maha kuasa dan maha pengasih, tentunya tidak
perlu alat penguji dengan menciptakan Iblis atau Setan dan kalau toh sudah
terlanjur diciptakan, harusnya dikendalikan supaya tidak membuat penderitaan
dan musibah bagi manusia yang merupakan ciptaanNya pula. Kecuali memang Iblis
atau Setan sengaja diciptakan dan dibiarkan supaya menggoda manusia, sehingga
manusia yang punya pilihan bebas, bisa punya alternatif pilihan mau masuk surga
atau neraka. Bila memiliki sifat maha tahu tentunya sudah bisa diketahui bahwa
manusia mana yang bakal tahan godaan lalu masuk surga dan mana yang tidak tahan
lalu masuk neraka. Tetapi bila Tuhan tidak tahu mana yang akan dipilih manusia,
maka sebagai perwujudan rasa cinta kasih, seharusnya tidak menciptakan iblis
penggoda karena besar kemungkinan manusia akan tergoda lalu masuk neraka.
18. Saat kita
mengingat kejadian Tsunami yang menghancurkan jutaan hidup manusia dengan cara
yang sangat mengerikan, belum lagi penderitaan dan trauma berkepanjangan bagi
yang masih hidup, tentunya kita juga boleh bertanya-tanya, mengapa hal tersebut
terjadi? Pada waktu itu tidak ada satu tokoh agamapun bisa membahas
mengapa hal itu terjadi ? Apakah Tuhan sedang murka pada jutaan orang-orang
tidak berdosa itu? Sebesar apa kesalahan mereka sehingga patut menerima hukuman
seperti itu? Saat itu para tokoh agama hanya menjelaskan bahwa betapa kecilnya
kita dibanding kekuasaan Tuhan, sehingga kita tidak seharusnya menjadi sombong
dan belajar rendah hati, serta mengembangkan kepedulian kita pada korban
bencana tersebut. Penjelasan tokoh agama itu memang benar dan sudah seharusnya
kita berpikir seperti itu, tetapi dibalik penjelasan itu akan tetap tersimpan
tanda tanya besar, kenapa Tuhan begitu tega melakukan penghukuman seperti itu ?
Apabila manusia dilarang untuk mempertanyakan segala rencana Tuhan, maka
manusia seharusnya tidak diciptakan dengan akal budi yang sedemikian rupa sehingga mampu berpikir logis
dan mempertanyakan “ Policy ” Tuhan.
Dalam kitab Jataka VI : 208 tercatat :
“Dengan mata,
seseorang dapat melihat pemandangan memilukan,
Mengapa “Maha Dewa” itu tidak menciptakan secara baik ?
Bila kekuatannya dikatakan tak terbatas,
Mengapa tangannya begitu jarang memberkati ,
Mengapa dia tidak menganugerahi kebahagiaan saja?
Mengapa kejahatan, kebohongan dan
ketidaktahuan merajalela ?
Mengapa kepalsuan menang,
sebaliknya kebenaran dan keadilan gagal?
Aku
menganggap, pandangan tentang “ Maha
Dewa ” adalah ketidak-adilan yang membuat dunia yang diatur keliru.”
19. Dalam suatu
kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia, salah seorang Bhikkhu
kita ditanya apakah agama Buddha mengakui adanya Tuhan. Bhikkhu tersebut
menjawab; tidak mengakui Tuhan kalau Tuhan itu suatu makhluk, Paus sempat
bingung, mungkin juga kebanyakan orang yang belum mengenal betul ajaran Sang
Buddha, akan mengalami kebingungan seperti Beliau.
20. Pernah dalam suatu pertemuan dengan
tokoh-tokoh agama, seorang Bhikkhu kita ditanya oleh seorang tokoh agama
sebagai berikut :
“Bapak
bhikkhu yang terhormat, saya telah membaca banyak kitab suci agama Buddha,
tetapi saya tidak bisa menemukan kata-kata Tuhan dimanapun juga. Apakah agama
Buddha tidak ber-Tuhan?” .
Menanggapi
pernyataan yang bersifat tuduhan ini, bhikkhu kita dengan entengnya menjawab
dengan pertanyaan lain: ”Manakah agama di Indonesia
yang bertuhan?”
Tentu
saja para pemuka agama itu langsung tersentak kaget dan merah padam mukanya.
Mereka seolah tidak percaya dengan pertanyaan bhikkhu tersebut.
Namun,
bhikkhu tersebut segera melanjutkan dengan keterangan bahwa istilah ‘tuhan'
sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi. Oleh karena itu, pengertian kata ‘tuhan'
terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ‘tuhan'
berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama yang
mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah di
Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan' dalam kitab suci
aslinya?
Menyadari kebenaran tentang bahasa asal kitab suci
masing-masing, barulah mereka menerima bahwa memang tidak ada istilah ‘tuhan'
dalam kitab suci mereka.
21. Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci
Agama Buddha, tentu juga tidak akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan' karena
Tipitaka menggunakan Bahasa Pali yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada
jaman dahulu. Namun, tidak adanya istilah ‘tuhan' dalam kitab suci Tipitaka
tentunya tidak boleh dengan mudah dan sembarangan kemudian orang menyebutkan
bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan'. Salah pengertian dan penafsiran sedemikian
sembrono tentunya berpotensi menjadi pemicu pertentangan antar umat beragama di
Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia.
22. Tujuan dari pembahasan diatas murni untuk
melakukan koreksi atas konsep keliru yang masih sering dimiliki umat Buddhis,
yaitu yang menggambarkan Tuhan sebagai “ Sosok berkepribadian “ yang mengatur
nasib manusia. Sangat tidak tepat menggambarkan kesucian dengan cara seperti
itu. Karena itu agama Buddha tidak pernah menggambarkan Tuhan sebagai Suatu
Sosok pencipta, penguasa, pemberi berkah, penghukum dsb. Tuhan adalah YANG MUTLAK, tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata, tetapi bisa direalisasikan dalam batin bagi mereka yang mau
mengembangkan kebijaksanaan dalam kehidupannya saat ini dan tidak harus
menunggu kematian datang menjemput.
Jawaban-jawaban yang menggambarkan keterlibatan Tuhan atas nasib
manusia tersebut diatas memang tidak dapat diterima dengan logika. Tetapi buat
sebagian orang bisa menjadi penghibur dan harapan untuk bertahan atas
penderitaan hidup yang sedang mereka alami, terutama bagi yang mau percaya
penuh atas konsep-konsep tersebut.
Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dipandang sebagai suatu Pribadi. Sang Buddha tidak
mengajarkan paham yang menempatkan suatu kekuasaan Adikodrati merencanakan dan
menakdirkan kehidupan semua Makhluk .
Jika
ada suatu “Makhluk” yang merancang hidup dan kehidupan semua makhluk di alam
semesta ini, maka semua tindakan kebajikan dan kejahatan di dunia ini berarti
sudah ditentukan sebelumnya, maka sesungguhnya manusia tiada lain hanyalah
sebagai “Alat” dari kehendakNya dan jika demikian, apapun yang dilakukan oleh
manusia, perbuatan bajik atau jahat, tentu saja seharusnya “Makhluk itulah”
yang bertanggung jawab sepenuhnya. Namun, mengapa pula diciptakan Surga dan
Neraka? dan atas dasar apakah “Makhluk itu” menghakimi perbuatan para “Alat”
/makhluk ciptaanNya?
·
Hujan
memberikan kita air murni untuk diminum, akan tetapi terkadang hujan yang
terlalu deras menimbulkan banjir dan menyebabkan orang kehilangan nyawa, rumah,
dan mata pencaharian. Sebaliknya terkadang tidak ada hujan sama sekali,
sehingga jutaan orang meninggal karena kemarau dan kelaparan yang
berkepanjangan.
·
Gunung-gunung
menjulang ke angkasa yang indah sedap dipandang mata. Akan tetapi tanah longsor
dan gunung meletus yang terjadi dari abad ke abad telah menimbulkan banyak
kerugian dan kematian.
·
Hembusan
angin yang sejuk memang menyenangkan, akan tetapi badai dan topan telah
seringkali menyebabkan kehancuran dan hilangnya banyak nyawa. Apakah semua itu
yang disebut rancangan yang sempurna?
Untuk menghidupi kehidupan beragama yang berarti, kita harus memiliki kebebasan kehendak, kita harus bisa memilih yang baik dan yang buruk. Kalau kita tidak memiliki kehebasan kehendak, kita tidak dapat bertanggung-jawab atas kelakuan kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar