TINGKAT KESUCIAN
I. Dalam tingkat kesucian, umat Buddha dapat dibagi dalam dua golongan
1. Puthujjana - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian.
2. Ariya-puggala - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama.
Setiap orang yang belum menapaki jalan kesucian dikenal sebagai puthujjana, yang secara harafiah berarti "orang awam". Jika dibandingkan dengan orang yang telah menapaki jalan kesucian (ariya-magga), maka puthujjana akan terkesan "gila" atau "kacau", oleh karena belum memiliki keseimbangan batin.
II. Empat Tingkat Kesucian
1. Buddhisme mengenal empat jenis orang suci (ariya) yang terdiri dari
2. Sotapanna (Skt Srotapanna),
3. Sakadagami (Skt Sakrdagamin),
4. Anagami,
5. Arahat.
III. Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.
Kesepuluh belenggu itu adalah:
1. Sakkayaditthi : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.
2. Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
3. Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.
4. Kamaraga : Nafsu Indriya.
5. Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.
6. Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).
7. Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.
8. Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain .
9. Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.
10. Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).
1. Sotapanna
Kebanyakan umat Buddhis berusaha melatih sila dasar dan menjadi sempurna hanya dalam diri orang-orang yang telah mendekati tingkatan Sotapanna (Skt Srotapanna), dimana kata ini secara harafiah berarti "Pemasuk Arus". Pada tingkatan Sotapanna, seorang mendapatkan sekilas pandangan yang pertama atas Nibbana dan mulai menapaki jalan kesucian.
Seorang Sotapanna diyakini telah mematahkan tiga belenggu pertama (Samyutta-Nikaya) , yaitu :
1) Sakkayaditthi : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.
2) Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
3) Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.
Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. la telah terbebas dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang, atau asura. la dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh kali lagi (Anguttara-Nikaya).
Belenggu pertama dihancurkan dengan penembusan mendalam ke dalam Empat Kebenaran mulia dan Sebab Musabab yang Saling Bergantungan. Belenggu kedua dihancurkan karena ia telah "melihat" dan "terjun ke dalam" Dhamma (Majjhima-Nikaya). Belenggu ketiga dihancurkan karena kendati moralnya murni, namun ia menyadari bahwa itu saja masih belum memadai untuk mencapai Nibbana.
Ada tiga macam Sotapanna :
1) Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali sekali lagi.
2) Kolamkola Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.
3) Sattakkhattuparana Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.
2. Sakadagami
Dengan memperdalam penembusan pandangan terangnya, seseorang bisa mencapai tingkatan Sakadagami ("Yang Hanya Kembali Sekali Lagi"). Seorang Sakadagami telah mematahkan tiga belenggu Sotapanna (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa) dan melemahkan belenggu-belenggu Anagami , yaitu :
1. Kamaraga : Nafsu Indriya.
2. Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.
Seorang Sakadagami dilahirkan kembali maksimum sekali lagi di dalam dunia alam nafsu keinginan (kamadhatu) sebagai manusia atau makhluk surga tingkat bawah sebelum mencapai Nibbana.
3. Anagami
Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah mematahkan sepenuhnya kelima belenggu (Sakkayaditthi, Vicikiccha, Silabbataparamasa, Kamaraga dan Vyapada). Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu (manusia). Namun pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci" (Alam Suddhavasa), atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagami- lah yang dilahirkan di sana. Di surga ini ia akan mengembangkan penembusannya hingga mencapai tingkat kesucian Arahat dan mencapai parinibbana.
Ada lima macam Anagami :
1. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan mereka (Antaraparinibbayi)
2. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka (Antaraparinibbayi)
3. Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )
4. Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)
5. Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi (Uddham-soto-akanitthagami)
Dua yang pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.
4. Arahat
Seorang Arahat telah mematahkan seluruh sepuluh belenggu ini , sehingga dengan demikian mengakhiri dukkha dan semua kelahiran kembali dalam pengalaman Nibbana yang penuh kebahagiaan. Seorang Arahat mempunyai kemampuan terbang dengan tubuh jasmaninya, sedangkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah daripadanya hanya dapat terbang dengan menggunakan kesadarannya.
- Untuk Belenggu ruparaga dan aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga).
Lima samyojana/Belenggu pada Sotapanna dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana. Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.
Sang Buddha mengajarkan Dhamma hanya untuk membebaskan manusia dari dukkha yang mencengkeram semua makhluk hidup. bahkan dewa-dewa sekalipun tidak terhindar daripadanya. Kebahagiaan atau sukha akan datang sendirinya, bilamana derita telah dilenyapkan. Maka itu ajaran agama Buddha berkisar di sekitar Cattari Ariya Saccani atau Empat Kesunyataan Mulia dan ini harus ditembusnya. Barang siapa yang dapat menembusnya akan memperoleh tingkat kesucian.
Didalam sutta yang terdapat pada Kitab Samyutta Nikaya V : 453, menunjukkan betapa sukarnya penembusan itu , sebagai berikut:
“ Bagaimanakah pendapatmu, Ananda? Manakah tugas yang lebih berat, manakah yang lebih sukar dilakukan : Memanah melalui sebuah lubang kunci dari jarak jauh dan membelah sebatang anak panah, atau dengan ujung rambut membelah sepeseratus bagian dari ujung rambut?”
“ Tugas yang banyak lebih berat, Bhante, banyak lebih berat untuk dilakukan ialah tugas yang belakangan”.
“ Benar, Ananda, bahkan tugas yang terlebih berat pula ialah menembus makna daripada “ Inilah derita, inilah munculnya derita, inilah lenyapnya derita, inilah jalan untuk melenyapkan derita.”
“ Untuk itu, Ananda, kau harus bertekun untuk melaksanakan kebenaran ini.”
Tugas ini dapat dilaksanakan jika kita dengan tekun dan ulet melatih diri dalam Sila (budi pekerti/tatasusila), Samadhi (meditasi/konsentrasi pikiran) dan Panna ( kebijaksanaan luhur).
“ Tidaklah mungkin, O para siswa, untuk menguasai Samadhi tanpa menguasai sila. Tidaklah mungkin pula untuk menguasai Panna tanpa menguasai Samadhi.”
(Majjhima Nikaya 10 = Satipatthana Sutta)
“ Dalam tujuh tahun, mungkin juga dalam satu tahun, mungkin juga dalam tujuh bulan, enam bulan, lima bulan, empat bulan, tiga bula, dua bulan, satu bulan, setengah bulan, satu minggu, ia akan mempeoleh hasil jerih payahnya”.
( saduran Satipatthana Sutta)
Jalan menuju lenyapnya penderitaan telah ditunjukkan oleh Sang Buddha melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan atau disebut juga sebagai Jalan Tengah (Majjhima Patipada), karena dalam mempraktekkan Buddha Dhamma, Sang Buddha menasehatkan kepada para siswanya untuk mengikuti Jalan Tengah dan menghindarkan diri dari Dua cara ekstrim yang salah, yaitu :
1. Mencari kebahagiaan dengan menuruti atau memuaskan nafsu-nafsu indera.
2. Mencari kebahagiaan dengan menyiksa diri.
Mencari kebahagiaan dengan cara ekstrim itu tidak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, cara itu tidak akan dapat menghentikan daur tumimbal lahir yang terus menerus, yang berarti tidak dapat melenyapkan penderitaan bahkan menimbulkan penderitaan-penderitaan baru.
Disebut ‘Jalan Mulia’ karena bila dilaksanakan dengan benar, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia., disebut ‘ Berunsur Delapan ‘, karena terdiri dari delapan unsur/ruas/jalur yang menuntun seseorang menuju tercapainya Nibbana.
Demikianlah Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang tidak dapat dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) bukanlah ajaran yang bersifat pesimistis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimistis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan ajaran yang realitis, ajaran yang berdasarkan analistis yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.
Dengan uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa ajaran Empat kebenaran Mulia tidak pernah menakut-nakuti kepada para umatnya dengan segala macam ancaman dalam ajarannya, tetapi juga tidak menjanjikan sesuatu yang bersifat tidak masuk diakal pikiran manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar