PENJELASAN PATICCASAMUPPADA(1-6)
1. Avijja ( ketidaktahuan )
Tidak mengetahui kebenaran dan hakekat sesungguhnya segala sesuatu. Hakekat sesungguhnya bahwa batin dan jasmani itu dicengkeram oleh anicca, dukkha, dan anatta yang timbul dan padam dengan sebab akibat yang saling bergantungan. Karena tidak berpengetahuan, penganut duniawi yang tidak terbimbing memiliki pandangan yang keliru. Ia menganggap yang tidak kekal sebagai suatu yang kekal, yang menyakitkan sebagai kesenangan, yang bukan roh sebagai roh, yang bukan Tuhan sebagai Tuhan, yang tidak murni sebagai kemurnian, yang tidak nyata sebagai kenyataan. Lebih jauh lagi, avijja adalah tidak memahami lima kelompok kehidupan ( pancakkhandha ), atau batin dan jasmani. secara singkat ; ia tidak mengetahui paticcasamuppada.
Ketidaktahuan atau kegelapan batin adalah salah satu akar penyebab seluruh kekotoran batin, seluruh perbuatan jahat ( akusala ). Semua pikiran jahat merupakan akibat dari kebodohan. Jika tidak ada kebodohan maka perbuatan jahat, baik melalui pikiran, ucapan ataupun tindakan jasmani tidak akan dilakukan. Itulah sebabnya ketidaktahuan disebutkan sebagai mata rantai pertama dari 12 mata rantai Paticcasamuppada.
Meskipun ketidaktahuan ( Avijja ) merupakan mata rantai pertama dari 12 mata tantai Paticcasamuppada namun tidak seharusnya dianggap sebagai penyebab utama segala sesuatunya. Paticcasamuppada ini semata-mata menjelaskan proses kelahiran dan kematian, tumimbal lahir dan penderitaan dan bukanlah suatu teori yang menerangkan tentang asal-muasal terjadinya alam semesta, ataupun asal-mula dari makhluk. Tentu saja ia bukan penyebab utama, karena segala sesuatu yang timbul merupakan rangkaian dari sebab-sebab pendahulu tertentu, sehingga tidak ada sebab pertama, tak ada gambaran mengenai penyebab pertama dalam pemikiran Buddhist.
Ajaran Paticcasamuppada dapat digambarkan dengan suatu lingkaran mata rantai karena ia merupakan siklus kehidupan. Dalam sebuah lingkaran, titik manapun dapat dianggap sebagai titik awal. Setiap faktor dari Paticcasamuppada dapat digabungkan dengan yang lain dalam rangkaian yang sama, dan karena itulah, tak ada satupun faktor yang dapat berdiri sendiri ataupun berfungsi tanpa bergantung kepada yang lain, semuanya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Sebab musabab yang saling bergantungan adalah suatu proses yang tak terputus. Dalam proses ini tak ada yang tetap atau pasti, melainkan seluruhnya berada dalam suatu putaran. Ini merupakan timbulnya keadaan yang selalu berubah bergantung pada kondisi serupa yang cepat berlalu. Di sini tak ada kematian ataupun kehidupan yang mutlak, hanyalah fenomena kosong yang berputar (suddha dhamma pavattanti).
Karena itulah, ketidaktahuan, faktor pertama dari mata rantai, bukan merupakan satu-satunya keadaan yang menimbulkan bentuk–bentuk kamma, Karena ketidaktahuannya, ia berjalan semaunya maka akhirnya mengkondisikan faktor kedua yaitu sankhara. Jadi, faktor–faktor dari Paticcasamuppada juga saling mendukung satu sama lain dalam cara yang beraneka ragam.
Akar daripada keberadaan dan penderitaan adalah kegelapan batin. Dijelaskan dalam Sutta sebagai berikut “Tidak mengetahui tentang penderitaan, tidak mengetahui tentang asal mula penderitaan, tidak mengetahui tentang berhentinya penderitaan, tidak mengetahui tentang jalan menuju berhentinya penderitaan (yakni ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia) – Inilah yang disebut dengan kegelapan batin.” Majjhima Nikaya 9 - Samma Ditthi Sutta menyatakan :
“Dengan munculnya asava, muncullah kegelapan batin…Dengan munculnya kegelapan batin, muncullah asava.”
Dengan kata lain, penyebab daripada kegelapan batin adalah asava dan penyebab dari asava adalah kegelapan batin. Mereka saling mengkondisikan satu sama lain. Asava secara harafiah berarti pengaliran (leakage) dan tepat diterjemahkan sebagai suatu keadaan pengaliran mental yang tidak terkendali.
2. Sankhara ( perbuatan )
Diibaratkan dengan seseorang yang membuat pot. Ada pot yang sudah dibuat, ada yang masih utuh, ada juga yang pecah. Membuat pot itu ibarat melakukan sesuatu. Ada yang potnya sudah pecah artinya kammanya sudah berbuah dan ada pot yang belum pecah, sementara ia terus membuat pot terus menerus, karena masih avijja.
Penyebab dari Vinnana adalah Sankhara, seperti yang dijelaskan sebagai berikut : “Terdapat tiga jenis Sankhara yakni: kaya- sankhara, vaci- sankhara, citta- sankhara.”
Sutta-Sutta dalam Paticcasamuppada tidak menjelaskan sankhara lebih jauh lagi. Karenanya, mata rantai ke 2, sankhara, adalah istilah yang kontroversial lainnya. Sankhara telah diterjemahkan secara luas, yakni sebagai pembentukan, proses, aktifitas, terkondisi, tersusun, dan lain-lain. Menurut interpretasi tradisional Paticcasamuppada dari Abhidhamma dan Kitab Komentar, sankhara adalah proses bekerjanya kamma (niat/kemauan). Sehubungan dengan ini, mereka sering menerjemahkan sankhara sebagai aktifitas atau pembentukan. Didalam penulisan buku ini kami menggunakan sebutan sankhara sebagai “Pengkondisi” (faktor yang mengkondisikan /menentukan).
3. Vinnana ( kesadaran )
Untuk melihat, mendengar, membaui, mengecap, mengalami sentuhan, ataupun menyadari sesuatu. Yang umum dibahas vinnana itu adalah patisandhi vinnana. Karena melakukan nidana kedua, maka mengkondisikan tumimbal lahir. Mengkondisikan ini diibaratkan dengan seekor kera. Kera yang pindah dari pohon yang berdaun kering dan buahnya sudah tidak ada, ke pohon yang baru, yang daunnya masih hijau dan buahnya masih merah. Ini ibarat pohon yang baru tetapi bukan berarti vinnana itu pindah dari badan yang lama ke badan yang baru. Tumimbal lahir ini mengkondisikan nama-rupa.
Penyebab dari nama-rupa adalah kesadaran,
“Terdapat 6 jenis kesadaran yakni :
1) Kesadaran-mata,
2) Kesadaran-telinga,
3) Kesadaran-hidung,
4) Kesadaran-lidah,
5) Kesadaran tubuh jasmani,
6) Kesadaran-pikiran.
Kesadaran mata seperti yang disebutkan sebelumnya, timbul karena mata dan bentuk; kesadaran telinga timbul karena telinga dan bunyi, dan lain-lain.
Di Khandha Samyutta, Sutta SN 22.79, Sang Buddha berkata;
“Sesuatu disadari, para bhikkhu, oleh sebab itu istilah kesadaran dipergunakan. Menyadari apa? Rasa asam atau pahit, pedas atau manis, beralkali atau tidak beralkali, asin atau tidak asin.”
Kita dapat menyadari dan mengetahui semua keadaan ini. Itu adalah makna dari kesadaran, kandungan dasar yang hadir dalam semua proses kerja batin. Sifat alami dari kesadaran adalah ia selalu muncul bergantungan pada objek. Tanpa objek, kesadaran tak dapat muncul karena kesadaran berarti menyadari sesuatu. Kesadaran selalu timbul dan lenyap dengan mentalitas-materi (fenomena). Kita lihat sebelumnya bahwa kesadaran, perasaan dan persepsi saling berhubungan dan tidak mungkin untuk memisahkan satu dari yang lainnya (MN 43). Juga dunia ini timbul bergantungan kepada kesadaran (DN 11).
4. Nama-Rupa ( batin dan jasmani )
Diibaratkan pria dan wanita. Anggaplah pria ini jasmani dan wanita itu batin dalam suatu perahu. Perahu ini terdiri dari batin dan jasmani. Kemudian batin dan jasmani ini mengkondisikan salayatana (6 landasan indera).
Penyebab dari 6 landasan indera adalah mata rantai ke 4: nama-rupa. Di dalam Sutta, dikatakan bahwa “Kontak, perasaan, persepsi, pertimbangan, kemauan disebut mentalitas (nama). 4 elemen besar dan materialitas yang berasal dari 4 elemen besar disebut materi/unsur fisik (rupa).”
a) Nama
Harus diperhatikan bahwa mentalitas (nama) tidak termasuk kesadaran. Ketika kita berbicara tentang 5 Khandha (kelompok kehidupan), kita merujuk pada tubuh jasmani dan 4 bagian mental (perasaan, persepsi, kemauan dan kesadaran). Ke 4 bagian mental umumnya disebut batin. Tetapi, dalam definisi nāma, tidak termasuk kesadaran. Jadi nāma bukan batin tetapi mentalitas.
b) Rupa
4 elemen besar (tanah, air, api dan angin) secara harafiah tidak bermakna demikian. Tetapi merujuk pada 4 sifat dari dunia fisik yang disadari oleh kesadaran.
Tanah merujuk pada elemen padat. Oleh karenanya, ketika kita merasakan sesuatu sebagai padat, kita menyebutnya elemen tanah; misalnya rotan dari kursi bersifat padat atau saya merasakannya padat. Itu adalah elemen tanah.
Elemen air berarti sesuatu yang bersifat kohesif, yakni sesuatu yang saling menarik dan saling menyatu. Ini dikarenakan air memiliki sifat menyatukan sesuatu. Misalnya, tubuh saya memiliki elemen air. Jika semua elemen air dari tubuh ditiadakan, tubuh menjadi remuk. Elemen air menyatukan tubuh dan memberinya bentuk. Ini adalah makna dari elemen air (bersifat kohesif).
Elemen api merujuk pada elemen yang bersifat panas dan kita mengetahuinya dengan cukup baik.
Elemen angin merujuk pada pergerakkan. Dimana terdapat pergerakkan, di sanalah elemen angin. Misalnya, di dalam tubuh, terdapat pergerakkan gas, pernafasan dan lain-lain. Itu adalah elemen angin.
c) Nama-rupa
Adalah keseluruhan fenomena yang disadari oleh kesadaran. Maha Nidana Sutta (Digha Nikaya 15) menyatakan bahwa :
“…dengan nama-rupa sebagai kondisi, muncullah kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, muncullah nama-rupa.”
Oleh karenanya, vinnana (kesadaran) mengkondisikan nama-rupa dan sebaliknya.
Untuk memahami hal ini sedikit lebih baik, kita merujuk pada Sutta lainnya. Di Nidana Samyutta, Sutta SN 12.67 mengatakan bahwa kesadaran dan nama-rupa diumpamakan dengan 2 ikat alang-alang yang berdiri bersandaran satu dengan lainnya, saling mendukung. Mereka muncul bersamaan dan lenyap bersamaan. Ini berarti bahwa nama-rupa merujuk pada fenomena, yakni apa yang disadari oleh kesadaran. Tanpa sesuatu objek (dari kesadaran), kesadaran tidak dapat muncul. Ketika kesadaran muncul, harus ada objek dari kesadaran yang muncul juga yakni nama-rupa .
Dengan kata lain, nama-rupa adalah keseluruhan fenomena yang disadari oleh kesadaran. Nama-rupa memiliki dua bagian yakni:
1) Mentalitas – proses bekerjanya mental yang disadari oleh kesadaran.
2) Materi – empat sifat dari dunia fisik yang disadari oleh kesadaran (empat elemen besar dari tanah, air, api dan angin, yang mewakili dunia fisik).
Di Kevaddha Sutta (Digha Nikaya 11) Sang Buddha berkata bahwasanya dunia ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia muncul hanya bergantungan (dengan bertumpu) pada kesadaran. Ini berarti bahwa dunia ini adalah fenomena yang dirasakan oleh kesadaran – dan ini sesuai dengan terjemahan dari nama-rupa sebagai keseluruhan fenomena.
5. Salayatana ( 6 landasan indera )
Yang diumpamakan dengan sebuah rumah dengan 5 jendela dan satu pintu. Lima landasan adalah fisik dan satu lagi batin. Karena ada 6 landasan indera ini maka mengkondisikan phassa. Phassa (kontak); ibarat wanita dan pria yang mengadakan kontak, maka muncullah perasaan, mengkondisikan vedana.
Penyebab dari kontak (urutan no.5) adalah 6 landasan indera /Salayatana.
Terdapat enam jenis landasan indera:
1. Landasan-mata,
2. Landasan -telinga,
3. Landasan -hidung,
4. Landasan -lidah,
5. Landasan -tubuh jasmani,
6. Landasan -pikiran.”
Terdapat 6 landasan indera eksternal yang berhubungan dengan 6 landasan indera internal :
1. Mata,
2. Telinga,
3. Hidung,
4. Lidah,
5. Tubuh jasmani dan
6. Pikiran .
6 landasan indera eksternal adalah objek-objek dari 6 landasan indera, yakni bentukan-bentukan, bunyi, bau-bauan, cita-rasa, sentuhan dan objek-objek pikiran.
5 landasan indera eksternal yang pertama merujuk pada dunia luar (yakni, dunia di sekitar kita yang berada diluar tubuh jasmani kita).
Landasan indera eksternal ke-6 (objek-objek pikiran) merujuk pada dunia dalam ketika kita berkhayal, berimajinasi, berfantasi, dan lain-lain. Kesadaran kita mengalir melalui enam landasan indera dan menguras energi kita. Kita menjadi lelah karena energi kita sering keluar melalui enam landasan indera. Ketika kita melatih batin kita, kita ingin kembali ke dalam batin. Kita tidak ingin energi kita terkuras. Jika kita bermeditasi dan berusaha melatih kemanunggalan batin, energi kita tidak terpencar. Ia berada dalam batin kita. Sang Buddha berkata bahwa batin dasar kita bersifat cemerlang. Jika kita dapat mencegah energi kita keluar melalui enam pintu indera, menjadi konsentrasi dan memiliki kemanunggalan batin, batin kita akan bersinar terang. (Anguttara Nikaya 1.6.1).
6. Phassa ( kontak )
Ibarat wanita dan pria yang mengadakan kontak, maka muncullah perasaan, mengkondisikan vedana.
Sumber/penyebab dari perasaan (urutan no.6) adalah phassa/kontak.
“Terdapat 6 jenis kontak: kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-tubuh jasmani, kontak-pikiran.”
Di Sutta SN 35.93 (Salayatana Samyutta) Sang Buddha berkata,
“Bergantungan pada dua hal, para bhikkhu, kesadaran muncul… Bergantungan pada mata dan bentuk, muncul kesadaran-mata… apabila ketiganya saling bersentuhan, saling berjatuhan, saling bertemu, ini para bhikkhu disebut kontak-mata.”
Tiga hal tersebut adalah mata, bentuk dan kesadaran mata. Ketika kesadaran mata muncul dan kita memperhatikannya, muncullah kontak. Secara serupa untuk panca indera lainnya (telinga, hidung, lidah, tubuh jasmani dan pikiran) kontak muncul dengan cara yang sama.
Di SN 22.56 (Khandha Samyutta), dikatakan demikian: penyebab munculnya perasaan adalah kontak; penyebab munculnya persepsi adalah kontak; penyebab munculnya kemauan adalah kontak.
Di Nidana Samyutta, SN 12.24, dikatakan bahwa penyebab dari munculnya penderitaan adalah kontak . Jadi, dikarenakan kontak, perasaan muncul. Ini diikuti oleh persepsi, lalu kemauan, dan jika kita lalai, ini menyebabkan dukkha. Itulah alasannya mengapa kita harus berhati-hati dengan kontak.
Untuk tujuan ini, Sang Buddha menasehati kita untuk berlatih “Menjaga enam pintu indera”, seperti seorang penjaga yang berdiri menjaga dan hanya mengizinkan orang-orang tertentu masuk melalui pintu. Kita harus behati-hati sehingga kita tidak melihat terlalu banyak, mendengar terlalu banyak, mencium bau terlalu banyak, dan lain-lain, tetapi hanya yang penting saja. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang praktisi Buddhis yang baik, seseorang hendaknya tidak terlalu banyak menonton televisi atau video. Semua aktifitas-aktifitas tersebut sangat tidak baik untuk latihan meditasi seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar