JALAN MENUJU KE NIBBANA
Bagaimana caranya untuk mencapai Nibbana ? Dengan melaksanakan Delapan Faktor Jalan Utama , yaitu :
- Pengertian benar ( samma – ditthi ),
- Pikiran benar ( samma – sankappa ),
- Ucapan benar ( samma – vaca ),
- Perbuatan benar ( samma – kammanta ),
- Penghidupan benar ( samma – ajiva ),
- Usaha benar ( samma – vayama ),
- Perhatian benar ( samma - sati ),
- Konsentrasi benar ( samma – samadhi ).
Pengertian benar yang merupakan kunci utama agama Buddha, mencakup pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia . Mengerti dengan benar berarti memahami segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana nampaknya. Pada pokoknya ini menyatakan pengertian benar terhadap diri sendiri, karena seperti tertulis di dalam Rohitassa Sutta :“ Empat Kebenaran Mulia tergantung pada tubuh ini yang panjangnya dua depa beserta kesadarannya “. Dalam melaksanakan Delapan Faktor Jalan Utama , Pengertian Benar berada pada permulaan serta pada akhirnya. Tingkat minimal Pengertian Benar amat diperlukan pada permulaan karena hal itu memberi motivasi serta arah yang benar kepada tujuh faktor Jalan Utama lainnya. Pada tingkat akhir pelaksanaan pengertian benar masak, menjadi kebijaksanaan pandangan terang sempurna (vipassana panna), yang langsung membawa kepada tingkat-tingkat kesucian.
Pengertian benar mengakibatkan pemikiran benar . Karena itu, faktor kedua dari jalan utama ini ( Samma – sankkappa ), mempunyai dua tujuan : melenyapkan pikiran-pikiran jahat dan mengembangkan pikiran – pikiran baik. Dalam hubungan ini, pikiran benar terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a. Nekkhamma; melepaskan diri dari kesenangan dunia dan sifat mementingkan diri sendiri yang berlawanan dengan kemelekatan, sifat mau menang sendiri.
b. Abyapada; cinta kasih, itikad baik, atau kelemah-lembutan yang berlawanan dengan kebencian, itikad jahat, atau kemarahan.
c. Avihimsa ; tidak kejam atau kasih sayang, yang berlawanan dengan kekejaman atau kebengisan.
· Pikiran benar menimbulkan ucapan benar , faktor ketiga. Ucapan benar mencakup perbuatan untuk menahan diri dari berbohong, memfitnah, berkata kasar dan bicara yang tidak berguna.
· Ucapan benar harus diikuti dengan perbuatan benar , yang meliputi perbuatan menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pencurian dan perbuatan-perbuatan seks yang salah.
· Dengan membersihkan pikiran, ucapan dan perbuatan pada tingkat awal, musafir spiritual berusaha memperbaiki penghidupannya dengan cara yang benar dengan menahan diri dari lima macam perdagangan yang terlarang bagi seorang umat Buddha, yaitu : memperdagangkan senjata, manusia, binatang-binatang untuk dibunuh, minuman keras, obat bius dan racun.
Bagi para Bhikkhu, penghidupan salah meliputi perbuatan-perbuatan munafik dan cara-cara yang tidak dibenarkan untuk memperoleh kebutuhan- kebutuhan hidup seorang Bhikkhu.
· Usaha benar , terdiri atas empat macam kegiatan yaitu : usaha melenyapkan kejahatan yang telah timbul, usaha mencegah timbulnya kejahatan yang belum timbul, usaha membangkitkan kebajikan yang belum timbul dan usaha mengembangkan kebajikan yang telah timbul.
· Perhatian benar , adalah kesadaran yang terus menerus terhadap jasmani, perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, serta obyek-obyek batin. Usaha benar dan perhatian benar menimbulkan konsentrasi benar , yaitu manunggalnya pikiran pada satu obyek yang luhur, yang memuncak dalam Jhana.
· Dari kedelapan faktor Jalan Utama ini, dua yang pertama dikelompokkan ke dalam bagian kebijaksanaan (panna), tiga yang selanjutnya ke dalam bagian moral (sila), dan tiga yang terakhir ke dalam bagian konsentrasi (samadhi). Tetapi menurut urutan perkembangannya, rangkaian itu adalah sebagai berikut : Sila, Samadhi dan Panna .
· Sila (moral) merupakan tingkatan pertama pada jalan yang menuju ke Nibbana ini. Dengan tidak membunuh atau melukai makhluk-makhluk hidup apapun, orang akan memiliki rasa belas kasihan dan cinta kasih terhadap semua makhluk, kepada makhluk yang paling kecil sekalipun yang merayap di bawah kakinya. Dengan menahan diri dari mencuri, ia akan berlaku jujur dalam semua usahanya. Dengan menahan diri dari perbuatan seks yang tidak benar yang akan merendahkan derajat manusia, ia akan berlaku saleh. Dengan menahan diri dari ucapan salah, ia akan berbicara benar. Dengan menghindari minuman keras yang mengakibatkan kelalaian, ia akan waspada dan rajin.
Azas-azas dasar kelakuan bermoral ini amat penting bagi seseorang yang melangkahkan kakinya menuju ke Nibbana. Melanggar hal-hal tersebut di atas berarti menciptakan rintangan pada kemajuan batinnya sendiri. Pelaksanaan hal-hal tersebut berarti kemajuan yang mantap dan lancar sepanjang jalan itu.
Sewaktu ia maju dengan lambat tapi mantap dengan mendisiplinkan segala ucapan dan tingkah lakunya, serta mengendalikan indera-inderanya, kekuatan kamma dari siswa yang sedang berjuang ini mungkin akan mendorongnya untuk melepaskan kesenangan-kesenangan duniawi dan menempuh kehidupan sebagai bhikkhu. Kemudian dalam dirinya muncul pengertian bahwa :
“ Kehidupan rumah tangga merupakan medan perjuangan. Penuh dengan kerja keras dan kebutuhan ; Tetapi menjalani kehidupan tanpa berumah tangga adalah bebas seperti udara terbuka “.
Namun demikian jangan salah tafsir bahwa setiap orang harus menjadi bhikkhu atau hidup membujang untuk mencapai tujuan akhir. Kemajuan spiritual seseorang dipercepat dengan menjadi bhikkhu, walaupun sebagai umat awam ia dapat juga mencapai tingkat Arahat. Setelah mencapai tingkat kesucian ketiga, yaitu Anagami, seseorang menempuh hidup membujang. Setelah memperoleh pijakan teguh di atas fondasi moralitas, kemudian pelaku spiritual yang telah memperoleh kemajuan tersebut mulai pelaksanaan yang lebih tinggi, yaitu pengendalian dan pengembangan batin ( Samadhi ), tingkat kedua pada jalan ini.
· Samadhi adalah pemusatan pikiran pada satu obyek dengan mengesampingkan semua persoalan yang tidak perlu.
Terdapat berbagai macam obyek meditasi sesuai dengan watak masing – masing individu. Pemusatan pikiran pada pernafasan merupakan cara termudah untuk mencapai Samadhi. Meditasi pada cinta kasih amat berguna karena hal itu mengakibatkan kedamaian dan kebahagiaan batin.
Pengembangan empat keadaan batin luhur : cinta kasih (Metta), belas kasihan (Karuna), kegembiraan bersimpati (Mudita), dan keseimbangan batin (Upekkha) amat dipuji oleh para bijaksana.
Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati obyek-obyek meditasi, ia harus memilih salah satu obyek yang paling cocok dengan wataknya. Setelah dapat memutuskan obyek yang akan dipilih, ia melakukan usaha terus menerus untuk memusatkan pikirannya sampai ia benar-benar tenggelam dan masuk ke dalamnya, sehingga semua bentuk pikiran lainnya tidak dapat menerobos ke dalam batinnya.
Lima rintangan bagi kemajuan batin adalah :
1. Keinginan indria,
2. Kebencian,
3. Kemalasan dan kelambanan,
4. Kegelisahan,
5. Kekhawatiran dan keragu-raguan.
Akhirnya ia mencapai pemusatan pikiran dan dengan kegembiraan yang tak dapat diterangkan, ia terserap dalam Jhana, menikmati ketenangan dan kedamaian penunggalan pikiran.
Bilamana seseorang telah mencapai keadaan penunggalan pikiran ini, adalah mungkin baginya untuk mengembangkan lima kemampuan batin luar biasa (abhinna), yaitu : Mata-dewa (Dibbacakkhu), Telinga-dewa (Dibbasota),Ingatan akan kelahiran-kelahiran lampau (Pubbenivasanussati –nana), Membaca-pikiran (Paracitta vijanana), dan Berbagai macam kemampuan-kemampuan batin lainnya (Iddhividha). Namun harus diingat bahwa kekuatan-kekuatan batin luar biasa ini tidak mutlak bagi pencapaian tingkat kesucian.
Walaupun sekarang pikiran telah bersih, tetapi masih ada kecenderungan-kecenderungan yang terpendam dalam batin. Karena dengan Samadhi nafsu-nafsu hanya tertidur untuk sementara. Kekotoran-kekotoran batin itu dapat muncul pada saat-saat yang tak terduga.
· Baik Sila maupun Samadhi amat berguna untuk membersihkan jalan dari rintangan-rintangan, tetapi hanya pandangan terang sajalah yang memungkinkan seseorang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya untuk akhirnya mencapai tujuan akhir dengan penghancuran nafsu–nafsu oleh Samadhi. Inilah tingkat ketiga dan terakhir dari Sang Jalan yang menuju ke Nibbana.
· Dengan batin yang telah terpusat, yang sekarang menyerupai sebuah kaca yang telah digosok, ia melihat ke dunia untuk mendapatkan pandangan benar tentang hidup. Kemanapun ia mengalihkan pandangannya, ia tidak melihat apapun selain Tiga Corak Umum kehidupan, yaitu : Anicca (ketidak -kekalan), Dukkha (penderitaan) , dan Anatta (tanpa pribadi kekal), yang merupakan gambar timbul yang tegas. Ia memahami bahwa kehidupan selalu berubah dan semua yang bersyarat itu tidak kekal adanya. Baik di surga ataupun di dunia ia tidak akan mendapatkan kebahagiaan sejati, karena setiap bentuk kesenangan hanyalah merupakan pendahulu bagi penderitaan. Karena itu, apa yang tidak kekal adalah tidak memuaskan dan di mana terdapat perubahan dan kesedihan, di sana tidak dapat ditemui adanya sesuatu yang kekal abadi.
· Kemudian, diantara ketiga corak umum ini, ia memilih salah satu yang paling menarik baginya dan dengan tekun terus mengembangkan Pandangan Terang dalam jurusan yang telah dipilihnya, sampai saat–saat yang membahagiakan tiba kepadanya ketika ia dapat memahami Nibbana untuk pertama kali dalam hidupnya, setelah menghancurkan Tiga belenggu : pandangan salah tentang aku (Sakkaya ditthi), keragu–raguan (Vicikiccha), serta kepercayaan bahwa upacara dan doa dapat membebaskan manusia dari penderitaan (Silabbata – paramasa).
· Pada tingkat ini ia disebut seorang Sotapanna (Pemenang arus), seorang yang telah memasuki arus yang akan membawanya ke Nibbana. Karena ia masih belum menghancurkan semua belenggu, maka paling banyak ia hanya akan dilahirkan kembali tujuh kali. Dengan mengumpulkan semangat baru sebagai akibat pandangan sekilas terhadap Nibbana, ia memperoleh kemajuan pesat dan mengembangkan Pandangan Terang yang lebih dalam sehingga mencapai tingkat kesucian kedua, Sakadagami (hanya kembali sekali) dengan melemahkan dua belenggu lagi, yaitu : keinginan indria (kamaraga) dan itikad jahat (patigha). Ia disebut sakadagami karena ia hanya akan dilahirkan sekali lagi seandainya ia masih belum mencapai tingkat kesucian terakhir, Arahat .
· Pada tingkat kesucian tertinggi inilah, Anagami (tak pernah kembali), ia dapat menghancurkan dua belenggu yang telah disebutkan diatas. Setelah itu, ia tidak akan kembali ke dunia ini atau ke alam dewa, karena ia tidak memiliki kesenangan-kesenangan indria lagi. Setelah meninggal dunia, ia terlahir kembali dalam “Alam Murni” (Suddhavasa), suatu alam brahma yang menyenangkan.
· Sekarang dengan dorongan keberhasilan usahanya yang belum pernah terjadi sebelumnya, maka ia mengusahakan kemajuannya yang paling akhir dan menghancurkan seluruh sisa belenggu batin, yaitu : keinginan akan kelahiran kembali dalam alam-alam bentuk (rupa-raga) dan alam-alam tak berbentuk (arupa-raga), kesombongan (mana) , kegelisahan (unddhacca), kebodohan ( avijja), dan menjadi seorang suci yang sempurna - Arahat.
Dengan segera ia menyadari bahwa apa yang harus dikerjakan telah dikerjakan, beban berat penderitaan telah diletakkan, semua bentuk kemelekatan telah dihancurkan, dan jalan ke Nibbana telah ditempuh. Beliau Yang Mulia sekarang berdiri di atas ketinggian yang melebihi surga kediaman para dewa, jauh dari gejolak-gejolak nafsu dan kekotoran dunia, menikmati kebahagiaan Nibbana yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
PENUTUP
Semua agama memiliki kitab suci atau kumpulan naskah suci yang menjadi dasar kepercayaan. Pada umumnya dinyatakan bahwa kitab suci itu berdasarkan wahyu dari Tuhan atau Dewa dari masing-masing agama dan oleh karenanya dianggap sempurna dan memiliki kekuasaan penuh. Sang Buddha mengajarkan, bahwa agama yang berdasarkan pada naskah wahyu tidaklah cukup, karena beberapa alasan :
Pertama : Ada demikian banyak agama yang berdasarkan pada naskah wahyu, semua menyatakan kitab suci mereka adalah kata-kata dari Tuhan, tetapi pada kenyataannya semua naskah dari masing-masing agama / kepercayaan berisi ajaran dan pemahaman yang berbeda-beda.
Kedua : Adanya kecenderungan bersikap terlalu “membuku” semuanya dirujuk ke buku/Kitab suci. Mereka yang kepercayaannya disandarkan pada naskah berdasarkan wahyu cenderung menghabiskan waktu memper- debatkannya kata demi kata, ayat demi ayat, sebab semua naskah dapat ditafsirkan bermacam-macam, mereka terlibat dalam perdebatan tentang “ yang mana adalah ” dan “ yang mana bukanlah ” tafsiran yang benar. Mereka lebih cenderung memperhatikan buku-buku sehingga mengabaikan penelitian terhadap diri sendiri untuk pertumbuhan nilai spiritual sejati.
Ketiga : Walau “ Tuhan ” menyampaikan wahyu itu lewat seorang Nabi, juga tidak ada cara untuk dapat memastikan sepenuhnya, apakah nabi itu telah mendengarkan dan mengerti Wahyu itu dengan tepat atau tidak. Walau telah didengarkan dan dimengerti dengan baik sekalipun, maka wahyu itu dapat saja tidak direkam dengan baik untuk pewarisannya kemudian. Dan memang pada kenyataannya, banyak naskah-naskah suci dari beberapa agama memiliki versi-versi yang berbeda dan beberapa bagian telah dikurangi atau ditambah, yang karenanya telah membuat kita ragu terhadap keasliannya.
Agama Buddha tidak menghadapi masalah-masalah seperti itu karena tidak ada pernyataan yang mengatakan bahwa naskah-naskah suci adalah Wahyu. Sebaliknya, naskah agama Buddha adalah penyampaian dari seorang manusia “Yang telah mencapai Pencerahan Sempurna”, yakni Sang Buddha, yang ajarannya juga direkam oleh manusia.
Demi keselamatan, penganut agama lain mempercayai segala sesuatu yang ada pada kitab suci, Sedangkan seorang Buddhis harus mengerti dan memahaminya sendiri, naskah suci hanyalah sarana untuk melaksanakan hal ini. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam salah satu khotbahnya yang sangat terkenal, khotbah pada suku Kalama .
KALAMA SUTTA
“.Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu,
atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi
atau sesuatu yang didesas-desuskan.
Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis
dalam kitab-kitab suci,
juga apa yang dikatakan sesuai logika dan kesimpulan belaka,
juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu,
atau karena ingin menghormati seorang pertapa
yang menjadi gurumu…
Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui;
“ Hal ini berguna, hal ini tidak tercela,
hal ini dibenarkan oleh para bijaksana,
hal ini kalau terus dilakukan
akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan”,
maka sudah selayaknya kamu menerima dan
hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.”
Bagi agama lain, hal yang terpenting adalah Siapa yang mengucapkan naskah suci itu….., tapi bagi seorang Buddhist, hal yang paling penting adalah apa yang diucapkan dan apakah itu benar dan bermanfaat?
Seorang Buddhist dengan gembira dapat mengetahui nilai spiritual dari literatur suci dari agama lain dan darinya dapat menambah wawasannya ,sebab perhatian utama umat Buddha bukanlah pada pertahanan dan memperteguh dogma, tapi mengetahui Kebenaran….!
If you find truth in any religion, accept that truth !
( Jika engkau menemukan kebenaran dalam agama apapun,
terimalah kebenaran itu )
DAFTAR KEPUSTAKAAN
- Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha- Corneles Wowor, M.A.
- Keyakinan umat Buddha oleh Sri Dhammananda
- What Buddhists Believe- K. Sri Dhammananda, Fifth Edition 1993.
- The Theory of Kamma in Buddhism - Ven. Mahasi Sayadaw
- Apa itu Karma ? - Team penyusun Universitas Dr. Soetomo- Surabaya.
- Dasar Pandangan Agama Buddha – Venerable S. Dhammika
- Ringkasan dari Bhagavant.com
- Kumpulan Ceramah Bhikkhu Uttamo mahathera
- Sang Buddha dan ajaran-ajarannya - Bhikkhu Narada Mahathera
- Kebahagiaan dalam Dhamma – Penerbit Majelis Buddhayana Indonesia
- Dhamma-sari - MP. Sumedha Widyadharma
- Pemahaman Dhamma Sang Buddha Jilid I & II oleh Tanhadi
- Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi
- Kumpulan Abhidamma- Paticca Samuppada - Selamat Rodjali
- Paticcasamuppada – Bhikkhu Dhammavuddho Mahathera
- Hidup dan Kehidupan, Pandit J. Kaharuddin, Tri sattva Buddhist Centre, Jakarta 1991.
- Kehidupan Sang Buddha – Editor Phra Chaluai Sujivo Thera.
- Menjalani kehidupan Buddhisme, Confuciusme dan Taoisme-Sutradharma Tj.Sudarman. MBA.
- BUDDHA - Gillian Stokes
- Dawai edisi. 46 - Team penulis.
- Anguttara Nikaya - Bhikku Jotidhammo Thera, M.Hum & Rudy Ananda Umiadi.SSI,MM.
- Majjhima Nikaya - Bhikku Nanamoli dan Bhikku Boddhi.
- Udana - John D.Ireland.
- Damai tak tergoyahkan - Venerable Ajahn Chah.
- Dhammapada - Penerbit Yayasan Dhammapada Arama.
- Nibbana, Sebagai Suatu Pengalaman Hidup- Lily de Silva
cรตd